Saya tidak ingin pengalaman pahit saya terulang pada anak-anak, mbak. Dulu, keinginan saya untuk bersekolah sangat tinggi. Dengan bersemangat saya mendaftar ke sekolah. Diterima,mbak! Tapi, keinginan itu tinggal keinginan karena saya tak pernah datang ke sekolah. Ayah saya "terpaksa" menghentikan semua cita-cita itu karena tak memiliki biaya untuk membayar uang sekolah.
Mata Karsiti menerawang. Ingatan pada masa kecilnya dulu di kampung, membuat matanya mulai berkaca-kaca. Setiap kata yang meluncur dari mulutnya pun jadi tersendat-sendat. Berbekal tekad dan harapan untuk mengubah nasib, Karsiti datang ke Jakarta. Ia menitipkan dua anaknya yang masih kecil ke orang tuanya. Ia lalu bekerja sebagai buruh cuci gosok di rumah kos di sekitar Mampang. Untuk bisa mendapatkan pemasukan yang lebih, dirinya sengaja mengambil pekerjaan di tiga hingga empat rumah kos yang letaknya berdekatan dengan kamar kontrakannya. Setiap hari, ia harus giat bangun pagi-pagi agar bisa menyelesaikan semua pekerjaan itu dan memiliki waktu untuk beristirahat. Read more of this post
No comments:
Post a Comment